Menarik Cinta Dengan Mengijinkan Diri Anda Menerimanya

November 11th, 2007 by dhyn

Siapa sih di dunia ini orang yang tak ingin dicintai? Semua orang
pasti mengidamkan dicintai oleh orang lain. Merasakan cinta merupakan
sebuah kegembiraan tersendiri. Kita semua pasti tahu bagaimana
memberikan cinta, tapi akan jadi masalah, saat kita tak tahu bagaimana
menerimanya. Jika kita dapat menerima cinta sebanyak kita bisa
memberikannya, maka lingkaran cinta akan berputar dengan penuh.

Masalahnya,
sebagian besar dari kita sudah dikondisikan pada kepercayaan yang
salah, untuk tidak menerima ungkapan kasih sayang dengan cara terbuka.
Itulah kenapa sebagian dari kita tak bisa menerima pujian, pemujaan dan
semua gerakan yang mengekspresikan kasih sayang. Kita selalu menolak,
mencoba bersembunyi dari semua itu dan menanggapi dengan segala cara
untuk tidak menunjukkan kebanggaan kita. Dan kita tak mengetahui kalau
sebenarnya sedang menolak cinta yang diberikan pada kita, bukannya
menerima dengan sepenuh hati. Bagaimana agar kita bisa menerima
ungkapan kasih sayang dari orang lain secara terbuka, dan membuat diri
kita dipenuhi cinta? Simak tips berikut ini.

- Sadari bagaimana
cara Anda merespon orang lain saat mereka menunjukkan cinta pada Anda.
Apakah Anda merasa tak nyaman saat orang lain melihat Anda dan
memperingatkan pada orang tersebut untuk tidak memperhatikan Anda? Saat
seseorang mencoba bersikap baik pada Anda, apa Anda merasa tak bersedia
menerimanya karena itu terasa aneh? Sebenarnya, bagaimana Anda merespon
adalah bagaimana Anda menerima cinta yang diberikan orang lain pada
Anda, tak peduli Anda menyadarinya atau tidak.

- Semua tanggapan
negatif yang kita buat adalah alasan kenapa kita kurang mendapat dan
kurang dapat mengekspresikan cinta dari orang lain. Setiap kali orang
lain menunjukkan kasih sayang, kita menanggapi dengan mengatakan,
‘Tolong jangan tunjukan cinta padaku, aku tak bisa menerimanya’ dan
kita jadi bertanya-tanya, kenapa ada orang yang menerima kasih sayang
dari banyak orang sedang kita tidak. Sebenarnya, kita lah satu-satunya
yang menciptakan pengalaman itu dari orang lain. Kita memprogram
bagaimana cara orang memperlakukan kita atau bagaimana mereka tak boleh
memperlakukan kita. Kita lah yang membuat orang lain bereaksi negatif
atau positif pada diri kita.

- Jadi dari pada menolak ungkapan
kasih sayang dari orang lain, sebaiknya terimalah dengan perasaan
terbuka. Jika ada orang yang bersikap sangat baik pada Anda, terimalah
mereka dengan cara yang hangat dan tunjukan itu lewat ekspresi di mata
Anda bahwa Anda senang menerima ungkapan kasih sayang itu. Saat ada
orang lain yang memuji, biarkan mereka melakukannya dengan bebas dan
jangan lupa mengucapkan terima kasih untuk pujian mereka. Tunjukan
bahwa Anda sebagai pribadi yang berharga, yang pantas menerima semua
cinta dari orang lain yang dapat diberikan pada Anda, dan biarkan orang
lain memberikannya dengan bebas pada Anda jika mereka mau.

- Ada
orang-orang yang menerima kasih sayang dengan cara yang sangat baik.
Dan orang jenis ini selalu mendapat kasih sayang ke manapun mereka
pergi. Mereka bertindak layaknya seorang bintang dan semua orang
menyukainya. Orang-orang semacam ini selalu diharapkan kehadirannya
oleh semua orang. Orang-orang akan mengajak Anda berbincang saat Anda
menunjukan ketertarikan. Tunjukan rasa suka, mengagumi, sayangi orang
lain dan inginkan mereka, dan sebagai balasannya mereka akan bersikap
sama kepada Anda.

- Buka diri Anda untuk cinta dengan
mengijinkan orang lain mencintai Anda. Beri mereka hadiah dari
mencintai Anda dengan bersikap menyenangkan dan menarik kasih sayang
dari mereka. Ini adalah kunci ajaib untuk membuat orang lain mencintai
Anda dan menunjukannya pada Anda. Biarkan orang lain menunjukan kasih
sayangnya pada Anda dalam tindakan mereka, kata-kata dan ekspresi, dan
beri mereka balasan yang baik. Dunia kita akan jadi lebih indah saat
orang lain mengekspresikan kasih sayangnya pada kita dan menerima itu
dengan sepenuhnya dan kita juga mengekspresikan perasaan sayang kita
pada orang lain dan membiarkan mereka menerimanya secara penuh.

-
Beberapa dari kita menanggapi kasih sayang dengan segera membalasnya
dengan ekspresi kasih sayang. Kita tidak benar-benar menerima cinta
saat kita tidak membalasnya. Saat seseorang mengatakan, ‘Aku sayang
kamu’ pada Anda, jangan langsung membalas dengan mengatakan, ‘Aku juga
sayang kamu.’ Biarkan Anda merasakan kasih sayang itu untuk sesaat,
terima lah dan biarkan merasuk dalam diri Anda. Tunjukan penghargaan
lewat senyum dan binar di mata Anda. Lalu baru balas ungkapan kasih
sayang dengan cara yang sama dengan mengatakan kalau Anda juga
menyayangi orang tersebut. Lakukan hal yang sama jika Anda menerima
pujian dari orang lain.

- Untuk dapat menerima cinta dari orang
lain, pertama-tama Anda harus bisa menerima cinta dari diri sendiri.
Biasakan mengatakan ‘Aku sayang diriku’ dan biarkan perasaan cinta itu
Anda rasakan secara menyeluruh di hati Anda. Bayangkan cahaya terang
yang berasal dari energi cinta melingkupi Anda luar-dalam. Rasakan
cinta untuk diri Anda sendiri, yang Anda berikan tanpa syarat dan
setulus hati. Saat Anda melangkah dengan perasaan penuh cinta pada diri
sendiri, Anda akan berada dalam bentuk yang tak dapat tergoyahkan oleh
siapapun.

Bermula dari cinta pada diri sendiri inilah, Anda akan
dapat memberikan cinta pada orang lain dengan tulus. Biarkan diri Anda
dipenuhi oleh perasaan cinta yang berasal dari diri sendiri, dan jadi
cinta itu sendiri. Dan dengan sendirinya perasaan itu akan dapat
dirasakan oleh orang di sekeliling Anda. Biarkan perasaan kasih sayang
itu menebar ke sekeliling, hingga orang lain dapat merasakannya. Saat
Anda memberikan kasih sayang yang berakar dari diri Anda, maka orang
lain akan membalasnya dengan bebas, karena Anda tak butuh cinta mereka
sebagai balasan, diri Anda sudah dipenuhi cinta yang berasal dari diri
sendiri. Well, selamat menemukan cinta seperti saya sdh menemukannya!

Menunggu CInta

November 6th, 2007 by dhyn

Cinta itu seperti seseorang yang menunggu BIS.
Sebuah bis datang, dan
kau bilang "wah…terlalu penuh, nggak bisa duduk nih! Aku tunggu bis
berikutnya saja, Kemudian, bis berikutnya datang. Kamu melihatnya dan
berkata,"Aduh bisnya sudah tua dan jelek begini…. nggak mau ah…."

Bis selanjutnya datang, tapi dia seakan-akan tidak melihatmu dan melewati
begitu saja. Bis keempat berhenti di depan kamu. Bis itu kosong, kondisinya masih bagus, tapi kamu bilang, "Nggak ada AC nih, gua bisa kepanasan", maka kamu membiarkan bis ketiga pergi.

Waktu terus berlalu, kamu mulai sadar
bahwa kamu bisa terlambat pergi ke kantor
Ketika bis kelima datang, kamu langsung melompat masuk ke dalamnya.
Setelah beberapa lama, kamu akhirnya sadar kalau kamu salah menaiki
bis Bis tersebut jurusannya bukan menuju kantormu!!!

Pesan Moral:
Sering kali seseorang menunggu orang yang benar-benar "ideal" untuk
menjadi pasangan hidupnya. Padahal tidak ada orang yang 100% memenuhi
keidealan kita. Tidak ada salahnya memiliki persyaratan untuk "calon", tapi
tidak ada salahnya juga memberi kesempatan kepada bis yang berhenti di depan kita (tentunya dengan jurusan yang kita inginkan). Apabila ternyata memang "bis" itu tidak cocok, kita masih bisa berteriak, "Kiri" dan keluar dari bis. Maka memberi kesempatan pada "bis",semuanya bergantung pada keputusan kita. Daripada kita harus "jalan kaki menuju kantor" dalam arti meneruskan hidup ini tanpa kehadiran orang yang dikasihi
Cerita ini juga berarti, kalau kita benar-benar menemukan bis yang "kosong
masih baru, dan ber-AC, dan tentunya sejurusan", kita harus berusaha sekuat
tenaga untuk memberhentikan bis tersebut dan masuk ke dalamnya, karena
menemukan bis seperti itu adalah suatu berkah yang sangat berharga dan
sangat berarti, tapi tidak semua orang yang mendapatkannya.

Ingat usia anda:

Usia 17-20an : Siapa Saya

Usia 20-30an : Siapa Dia

Usia 30-50an : Siapa sajalah, yang penting ada……

Memecahkan Rekor

November 5th, 2007 by dhyn

Setiap orang yang berhasrat besar untuk menjadi manusia yang lebih baik perlu merenungkan kata-kata Stuart B. Johnson berikut
ini: “Urusan kita dalam kehidupan ini bukanlah untuk mendahului orang
lain, tetapi untuk melampaui diri kita sendiri, untuk memecahkan rekor
kita sendiri, dan untuk melampaui hari kemarin dengan hari ini.”

Dalam era hiper kompetisi dewasa ini, bagaimana kita memahami
kalimat yang demikian itu? Bukankah kita harus bersaing dengan orang
lain, dengan siapa saja yang berusaha mengalahkan kita? Jika demikian
cara berpikir kita, maka cerita yang dikirim seorang kawan berikut ini
mungkin menarik untuk menjadi bahan renungan.

LOMPATAN SI BELALANG…. .

Di suatu hutan, hiduplah seekor belalang muda yang cerdik. Belalang
muda ini adalah belalang yang lompatannya paling tinggi di antara
sesama belalang yang lainnya. Belalang muda ini sangat membanggakan
kemampuan lompatannya ini. Sehari-harinya belalang tersebut melompat
dari atas tanah ke dahan-dahan pohon yang tinggi, dan kemudian makan
daun-daunan yang ada di atas pohon tersebut. Dari atas pohon tersebut
belalang dapat melihat satu desa di kejauhan yang kelihatannya indah
dan sejuk. Timbul satu keinginan di dalam hatinya untuk suatu saat
dapat pergi ke sana.

Suatu hari, saat yang dinantikan itu tibalah. Teman setianya, seekor
burung merpati, mengajaknya untuk terbang dan pergi ke desa tersebut.
Dengan semangat yang meluap-luap, kedua binatang itu pergi bersama ke
desa tersebut. Setelah mendarat mereka mulai berjalan-jalan melihat
keindahan desa itu. Akhirnya mereka sampai di suatu taman yang indah
berpagar tinggi, yang dijaga oleh seekor anjing besar. Belalang itu
bertanya kepada anjing, “Siapakah kamu, dan apa yang kamu lakukan di
sini?”

“Aku adalah anjing penjaga taman ini. Aku dipilih oleh majikanku
karena aku adalah anjing terbaik di desa ini,” jawab anjing dengan
sombongnya.

Mendengar perkataan si anjing, panaslah hati belalang muda. Dia lalu
berkata lagi, “Hmm, tidak semua binatang bisa kau kalahkan. Aku
menantangmu untuk membuktikan bahwa aku bisa mengalahkanmu. Aku
menantangmu untuk bertanding melompat, siapakah yang paling tinggi
diantara kita.”

“Baik,” jawab si anjing. “Di depan sana ada pagar yang tinggi. Mari
kita bertanding, siapakah yang bisa melompati pagar tersebut.”

Keduanya lalu berbarengan menuju ke pagar tersebut. Kesempatan
pertama adalah si anjing. Setelah mengambil ancang-ancang, anjing itu
lalu berlari dengan kencang, melompat, dan berhasil melompati pagar
yang setinggi orang dewasa tersebut tersebut. Kesempatan berikutnya
adalah si belalang muda. Dengan sekuat tenaga belalang tersebut
melompat. Namun, ternyata kekuatan lompatannya hanya mencapai tiga
perempat tinggi pagar tersebut, dan kemudian belalang itu jatuh kembali
ke tempatnya semula. Dia lalu mencoba melompat lagi dan melompat lagi,
namun ternyata gagal pula.

Si anjing lalu menghampiri belalang dan sambil tertawa berkata,
“Nah, belalang, apa lagi yang mau kamu katakan sekarang? Kamu sudah
kalah.”

“Belum,” jawab si belalang. “Tantangan pertama tadi kamu yang menentukan. Beranikah kamu sekarang jika saya yang menentukan
tantangan kedua?”

“Apa pun tantangan itu, aku siap,” tukas si anjing.

Belalang lalu berkata lagi, “Tantangan kedua ini sederhana saja.
Kita berlomba melompat di tempat. Pemenangnya akan diukur bukan dari
seberapa tinggi dia melompat, tapi diukur dari lompatan yang dilakukan
tersebut berapa kali tinggi tubuhnya.”

Anjing kembali yang mencoba pertama kali. Dari hasil lompatannya, ternyata anjing berhasil melompat setinggi empat kali tinggi
tubuhnya. Berikutnya adalah giliran si belalang. Lompatan belalang
hanya setinggi setengah dari lompatan anjing, namun ketinggian
lompatan tersebut ternyata setara dengan empat puluh kali tinggi
tubuhnya. Dan belalang pun menjadi pemenang untuk lomba yang kedua ini.
Kali ini anjing menghampiri belalang dengan rasa kagum.

“Hebat. Kamu menjadi pemenang untuk perlombaan kedua ini. Tapi
pemenangnya belum ada. Kita masih harus mengadakan lomba ketiga,” kata
si anjing.

“Tidak perlu,” jawab si belalang. “Karena, pada dasarnya pemenang
dari setiap perlombaan yang kita adakan adalah mereka yang menentukan
standar perlombaannya. Pada saat lomba pertama kamu yang menentukan
standar perlombaannya dan kamu yang menang. Demikian pula lomba kedua
saya yang menentukan, saya pula yang menang.” “Intinya adalah, kamu dan
saya mempunyai potensi dan standar yang berbeda tentang kemenangan.
Adalah tidak bijaksana membandingkan potensi kita dengan yang lain.
Kemenangan sejati adalah ketika dengan potensi yang kamu miliki, kamu
bisa melampaui standar dirimu sendiri. Iya nggak sih?”

Cerita sederhana di atas pernah membuat saya malu pada diri sendiri.
Ketika masih berumur awal 30-an tahun, betapa sering saya
membanding-bandingkan diri saya dengan orang lain. Membandingkan antara
profesi saya dengan profesi si Anu, antara pendapatan saya dan
pendapatan si Banu, antara mobil saya dengan mobil si Canu, antara
kesuksesan saya dengan kesuksesan si Danu, dan seterusnya. Hasilnya?
Ada kalanya muncul perasaan-perasaan negatif, seperti iri hati atau
kecewa pada diri sendiri, yang menganiaya rasa syukur atas kehidupan.
Namun kala yang lain muncul juga semacam motivasi untuk bisa lebih maju
dan
berusaha lebih tekun agar bisa melampaui orang lain (pesaing?).

Belakangan, saya menemukan cara bersaing yang lebih cocok untuk diri
sendiri. Saya mulai mengukur kemajuan saya tahun ini berdasarkan
prestasi saya tahun kemarin. Saya tetapkan bahwa tahun ini saya harus
lebih sehat dari tahun kemarin; pendapatan dan sumbangan tahun ini
diupayakan lebih tinggi dari tahun lalu; pengetahuan yang disebarkan
tahun ini ditingkatkan dari tahun silam; relasi dan tali silahturahmi
juga direntangkan lebih lebar; kualitas ibadah diperdalam; perbuatan
baik dipersering; dan seterusnya. Dengan cara ini, saya ternyata lebih
mampu mengatasi penyakit-penyakit seperti iri hati, dengki, dan rasa
kecewa pada diri. Berlomba untuk memecahkan rekor pribadi yang baru,
melampaui rekor yang tercapai di masa lalu, ternyata
menimbulkan keasyikan dan rasa syukur yang membahagiakan.

Mungkin benar kata orang bijak dulu: kemenangan sejati bukanlah
kemenangan atas orang lain, melainkan kemenangan atas hawa nafsu diri
sendiri. Setujukah?

Sumber: Memecahkan Rekor oleh Andrias Harefa.

Tempayan Retak

November 5th, 2007 by dhyn

Seorang tukang air memiliki dua tempayan besar, masing-masing bergantung pada
kedua ujung sebuah pikulan yang dibawa menyilang pada bahunya. Satu dari
tempayan itu retak, sedangkan tempayan satunya lagi tidak. Tempayan yang utuh
selalu dapat membawa air penuh, walaupun melewati perjalanan yang panjang dari
mata air ke rumah majikannya. Tempayan retak itu hanya dapat membawa air
setengah penuh.

Hal ini terjadi setiap hari selama dua tahun. Si tukang air hanya dapat membawa
satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. Tentu saja si tempayan utuh
merasa bangga akan prestasinya karena dapat menunaikan tugas dengan
sempurna. Di pihak lain, si tempayan retak merasa malu sekali akan
ketidaksempurnaanya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan
setengah dari porsi yang seharusnya ia dapat berikan.

Setiap Orang Memiliki kekurangan

Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan retak berkata
kepada si tukang air, “Saya sungguh malu kepada diri saya sendiri dan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya”

“mengapa?” tanya si tukang air,”mengapa kamu merasa malu ?”"Saya hanya mampu,
selama dua tahun ini, membawa setengah porsi air dari yang seharusnya
dapat saya bawa. Adanya retakan pada sisi saya telah membuat air yang
saya bawa bocor
sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacatku itu, saya telah
membuat mu rugi.”

Si tukang air merasa kasihan kepada si tempayan retak, dan dalam belas
kasihannya, ia menjawab,” Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin
kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan.”

Tuhan sanggup memakai kelemahan kita untuk maksud yang indah.

Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan dan baru
menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan dan itu
membuatnya sedikit terhibur. Namun pada akhir perjalanan, ia kembali
merasa sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor dan kembali
tempayan retak itu meminta maaf kepada si tukang air atas kegagalannya.
Si tukang air
berkata kepada tempayan itu, “Apakah kamu tidak memperhatikan adanya
bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu ? tapi tidak ada bunga di
sepanjang jalan di sisi tempayan lain yang tidak retak itu ?” Itu
karena aku selalu menyadari akan
cacatmu dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga di
sepanjang jalan di sisimu dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata
air, kamu mengairi benih-benih itu. Selama dua tahun ini, aku telah dapat
memetik bunga-bunga indah itu untuk dapat menghias meja majikan kita.
Tanpa adanya kamu , majikan kita tidak akan dapat menghias rumahnya
seindah sekarang.”

Setiap orang memiliki cacat dan kelemahan sendiri. Kita semua adalah tempayan
retak, namun jika kita mau, Tuhan akan menggunakan kekurangan kita untuk maksud
tertentu. Dimata Tuhan yang bijaksana, tak ada yang terbuang percuma,
Jangan takut akan kekuranganmu. Kenalilah kelemahanmu dan kamu dapat
menjadi sarana keindahan Tuhan.

Ketahuilah dalam kelemahan kita, kita menemukan kekuatan kita.

Pernahkah Kamu Merasa Bosan?

November 5th, 2007 by dhyn

Pada awalnya manusialah yang menciptakan kebiasaan. Namun lama kelamaan, kebiasaanlah yang menentukan tingkah laku manusia.

Ada seorang yang hidupnya amat miskin. Namun walaupun ia miskin ia tetap rajin membaca.

Suatu hari secara tak sengaja ia membaca sebuah buku kuno. Buku itu
mengatakan bahwa di sebuah pantai tertentu ada sebuah batu yang hidup,
yang bisa mengubah benda apa saja menjadi emas.

Setelah mempelajari isi buku itu dan memahami seluk-beluk batu
tersebut, iapun berangkat menuju pantai yang disebutkan dalam buku kuno
itu.

Dikatakan dalam buku itu bahwa batu ajaib itu agak hangat bila
dipegang, seperti halnya bila kita menyentuh makhluk hidup lainnya.

Setiap hari pemuda itu memungut batu, merasakan suhu batu tersebut
lalu membuangnya ke laut dalam setelah tahu kalau batu dalam
genggamannya itu dingin-dingin saja.

Satu batu, dua batu, tiga batu dipungutnya dan dilemparkannya kembali ke dalam laut.

Satu hari, dua hari, satu minggu, setahun ia berada di pantai itu.

Kini menggenggam dan membuang batu telah menjadi kebiasaannya.

Suatu hari secara tak sadar, batu yang dicari itu tergenggam dalam
tangannya. Namun karena ia telah terbiasa membuang batu ke laut, maka
batu ajaib itupun tak luput terbang ke laut dalam.

Lelaki miskin itu melanjutkan ‘permainannya’ memungut dan membuang batu. Ia kini lupa apa yang sedang dicarinya.

Teman, pernahkah kita merasakan kalau hidup ini hanyalah suatu
rentetan perulangan yang membosankan? Dari kecil, kita sebenarnya sudah
dapat merasakannya, kita harus bangun pagi-pagi untuk bersekolah, lalu
pada siangnya kita pulang, mungkin sambil melakukan aktifitas lainnya,
seperti belajar, nonton TV, tidur, lalu pada malamnya makan malam,
kemudian tidur, keesokkan harinya kita kembali bangun pagi untuk
bersekolah, dan melakukan aktifitas seperti hari kemarin, hal itu
berulang kali kita lakukan bertahun-tahun !! Hingga akhirnya tiba
saatnya untuk kita bekerja, tak jauh beda dengan bersekolah, kita harus
bangun pagi-pagi untuk berangkat ke kantor, lalu pulang pada sore/malam
harinya, kemudian kita tidur, keesokan harinya kita harus kembali
bekerja lagi, dan melakukan aktifitas yang sama seperti kemarin, sampai
kapan?

Pernahkah kita merasa bosan dengan aktifitas hidup kita?

Kalau ada di antara teman²ku ada yang merasakan demikian, dengarkanlah nasehatku ini :

“Bila hidup ini cuman suatu rentetan perulangan yang membosankan,
maka kita akan kehilangan kesempatan untuk menemukan nilai baru di
balik setiap peristiwa hidup.”

Artinya, jangan melihat aktifitas yang kita lakukan ini sebagai
suatu kebiasaan atau rutinitas , karena jika kita menganggap demikian,
maka aktifitas kita akan amat sangat membosankan !!

Cobalah maknai setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita,
mungkin kamu akan menemukan suatu yang baru, sesuatu yang belum pernah
kamu ketahui sebelumnya, “Setiap hari merupakan hadiah baru yang
menyimpan sejuta arti.”

10 Kualitas Pribadi Yang Di Sukai

November 1st, 2007 by dhyn

1.Ketulusan

Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh
semua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena
yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Orang yang tulus selalu mengatakan
kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura- pura, mencari-cari alasan atau
memutarbalikkan fakta. Prinsipnya “Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak”.
Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi
dengan kecerdikan seekor ular. Dengan begitu, ketulusan tidak menjadi
keluguan yang bisa merugikan diri sendiri.

2.Kerendahan Hati

Berbeda dengan rendah diri yang merupakan kelemahan, kerendah hatian justru
mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap
rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orang
yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa
membuat orang yang diatasnya merasa oke dan membuat orang yang di bawahnya
tidak merasa minder.

3.Kesetiaan

Kesetiaan sudah menjadi barang langka & sangat tinggi harganya. Orang yang
setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janji, punya
komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat.

4.Positive Thinking

Orang yang bersikap positif (positive thinking) selalu berusaha melihat
segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk
sekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang
lain, lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasaan, lebih suka
mencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam, dan
sebagainya.

5.Keceriaan

Karena tidak semua orang dikaruniai temperamen ceria, maka keceriaan tidak
harus diartikan ekspresi wajah dan tubuh tapi sikap hati. Orang yang ceria
adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selalu
berusaha meraih kegembiraan. Dia bisa mentertawakan situasi, orang lain,
juga dirinya sendiri. Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorong
semangat orang lain.

6.Bertanggung jawab

Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan
sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya.
Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk
disalahkan. Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akan
menyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yang
bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.

7.Percaya Diri

Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana
adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orang yang percaya
diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Dia
tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik.

8.Kebesaran Jiwa

Kebesaran jiwa dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain.
Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci
dan permusuhan. Ketika menghadapi masa- masa sukar dia tetap tegar, tidak
membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.

9.Easy Going

Orang yang easy going menganggap hidup ini ringan. Dia tidak suka
membesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkan masalah-
masalah besar. Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir
dengan masa depan. Dia tidak mau pusing dan stress dengan masalah-masalah
yang berada di luar kontrolnya.

10.Empati

Empati adalah sifat yang sangat mengagumkan. Orang yang berempati bukan saja
pendengar yang baik tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain.
Ketika terjadi konflik dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua
belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Dia
selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.

Bahasa Hati / Inner Heart Conversation

November 1st, 2007 by dhyn

Good Article whEn u FeeL  aNgrY…
Don’t Let it far juZ keEp Love in deEp on uR hEarT

Inner  Heart Conversation

There is enemy that can not be conquered by  love.
There is no illness that can not be cured by love and  affection.
There is no hostility that can not be forgiven by  sincerity.
There is no difficulty that can not be solved by  perseverance.
There is no stone that can not be broken by  patient.
Everything is must be from the bottom of your heart.

Talk  with your inner heart, and it will go through to another heart too.
To be  succeed is not about how big is your muscle and smart is your brain,
yet it  is also about how lenient/soft of your heart to do certain matters.

You  can not stop a cried baby by pulling him at your arm.
Or persuade him with  sweets/candies and sweet words.
What you have to do is embrace/hug him until  he feel the heart beat calmly
in your depth of relieved.

Please begin  with your soft heart before you give it to your  achievement.

Translation:

ArtiKeL yaNG BaGuS BaGi OrANg  yaNG bawaANnyA marah2 kali yah?  =D

Bicara Dengan Bahasa  Hati

Tak ada musuh yang tak dapat ditaklukkan oleh cinta.
Tak ada penyakit  yang tak dapat disembuhkan oleh kasih sayang.
Tak ada permusuhan yang tak  dapat dimaafkan oleh ketulusan.
Tak ada kesulitan yang tak dapat dipecahkan  oleh ketekunan.
Tak ada batu keras yang tak dapat dipecahkan oleh kesabaran.
Semua itu haruslah berasal dari hati  anda.

Bicaralah dengan bahasa hati,  maka akan sampai ke hati pula.
Kesuksesan bukan semata-mata betapa keras  otot dan betapa
tajam otak anda, namun juga betapa lembut hati anda dalam
menjalani segala  sesuatunya.

Anda tak  kan dapat menghentikan tangis seorang bayi hanya
dengan merengkuhnya dalam  lengan yang kuat.
Atau, membujuknya dengan berbagai gula-gula dan kata-kata  manis.
Anda harus mendekapnya hingga ia merasakan detak jantung yang tenang
jauh di dalam dada anda.

Mulailah dengan  melembutkan hati sebelum memberikannya pada
keberhasilan anda.

Inilah Cinta

November 1st, 2007 by dhyn

Para penumpang bus memandang penuh simpati ketika wanita muda
berpenampilan menarik dan bertongkat putih itu dengan hati-hati menaiki
tangga. Dia membayar sopir bus lalu, dengan tangan meraba-raba kursi,
dia berjalan menyusuri lorong sampai menemukan kursi yang tadi
dikatakan kosong oleh si sopir. kemudian ia duduk, meletakkan tasnya
dipangkuannya dan menyandarkan tongkatnya pada tungkainya.

Setahun sudah lewat sejak Susan, 34, menjadi buta. Gara-gara salah
diagnosa dia kehilangan penglihatannya dan terlempar kedunia yang gelap
gulita, penuh amarah, frustrasi dan rasa kasihan pada diri sendiri.

Sebagai wanita yang independen, Susan merasa terkutuk oleh nasib
mengerikan yang membuatnya kehilangan kemampuan, merasa tak berdaya dan
menjadi beban bagi semua orang disekelilingnya. “Bagaimana mungkin ini
bisa terjadi padaku?” dia bertanya-tanya,
hatinya mengeras karena marah. Tetapi, betapapun seringnya ia menangis
atau menggerutu atau berdoa, dia mengerti kenyataan yang menyakitkan
itu penglihatannya takkan pernah pulih lagi.

Depresi mematahkan semangat Susan yang tadinya selalu optimis.
Mengisi waktu seharian kini merupakan perjuangan berat yang menguras
tenaga dan membuatnya frustrasi. Dia menjadi sangat bergantung pada
Mark, suaminya. Mark seorang perwira Angkatan Udara. Dia mencintai
Susan dengan tulus.

Ketika istrinya baru kehilangan penglihatannya, dia melihat
bagaimana Susan tenggelam dalam keputusasaan. Mark bertekad untuk
membantunya menemukan kembali kekuatan dan rasa percaya diri yang
dibutuhkan Susan untuk menjadi mandiri lagi. Latar belakang mi
liter Mark membuatnya terlatih untuk menghadapi berbagai situasi
darurat, tetapi dia tahu, ini adalah pertempuran yang paling sulit yang
pernah dihadapinya.

Akhirnya Susan merasa siap bekerja lagi. Tetapi, bagaimana dia akan
bisa ke kantornya? Dulu Susan biasa naik bus, tetapi sekarang terlalu
takut untuk pergi ke kota sendirian. Mark menawarkan untuk
mengantarkannya setiap hari, meskipun tempat kerja mereka
terletak dipinggir kota yang berseberangan.

Mula - mula, kesepakatan itu membuat Susan nyaman dan Mark puas
karena bisa melindungi istrinya yang buta, yang tidak yakin akan bisa
melakukan hal-hal paling sederhana sekalipun. Tetapi, Mark segera
menyadari bahwa pengaturan itu keliru membuat mereka terburu-buru, dan
terlalu mahal. Susan harus belajar naik bus lagi, Mark menyimpulkan
dalam hati. tetapi, baru berpikir untuk menyampaikan rencana itu kepada
Susan telah membuatnya merasa tidak enak.

Susan masih sangat rapuh, masih sangat marah. Bagaimana reaksinya
nanti? Persis seperti dugaan Mark, Susan ngeri mendengar gagasan untuk
naik bus lagi. “Aku buta!” tujasnya dengan pahit. “Bagaimana aku bisa
tahu kemana aku pergi? Aku merasa kau akan meninggalkanku” Mark sedih
mendengar kata-kata itu, tetapi ia tahu apa yang harus dilakukan. Dia
berjanji bahwa setiap pagi dan sore, ia akan naik bus bersama Susan,
selama masih diperlukan, sampai Susan hafal dan bisa pergi sendiri. Dan
itulah yang terjadi. Selama 2 minggu penuh Mark, menggunakan
seragam militer lengkap, mengawal Susan ke dan dari tempat kerja,
setiap hari. Dia mengajari Susan bagimana menggantungkan diri pada
indranya yang lain, terutama pendengarannya, untuk menemukan dimana ia
berada dan bagaimana beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

Dia menolong Susan berkenalan dan berkawan dengan sopir-sopir bus
dan menyisakan 1 kursi kosong untuknya. Dia membuat Susan tertawa,
bahkan pada hari-hari yang tidak terlalu menyenangkan ketika Susan
tersandung dari bus, atau menjatuhkan tasnya yang penuh berkas di
lorong bus. Setiap pagi mereka berangkat bersama-sama, setelah itu Mark
akan naik taksi ke kantornya.

Meskipun pengaturan itu lebih mahal dan melelahkan daripada yang
pertama, Mark yakin bahwa hanya soal waktu sebelum Susan mampu naik bus
tanpa dikawal. Mark percaya kepadanya, percaya kepada Susan yang dulu
dikenalnya sebelum wanita itu kehilangan penglihatannya, wanita yang
tidak pernah takut menghadapi tantangan apapun dan tidak akan pernah
menyerah.

Akhirnya, Susan memutuskan bahwa dia siap untuk melakukan perjalanan
itu seorang diri. Tibalah hari senin. Sebelum berangkat, Susan memeluk
Mark yang pernah menjadi kawannya 1 bus dan sahabatnya yang terbaik.
Matanya berkaca-kaca, penuh air mata syukur karena kesetiaan, kesabaran
dan cinta Mark. Dia mengucapkan selamat berpisah. Untuk pertama kalinya
mereka pergi kearah yang berlawanan. Senin, Selasa, Rabu, Kamis …
Setiap hari dijalaninya dengan
sempurna.

Belum pernah Susan merasa sepuas itu. Dia berhasil ! Dia mampu
berangkat kerja tanpa dikawal. Pada hari Jum’at pagi, seperti biasa
Susan naik bus ke tempat kerja. Ketika dia membayar
ongkos bus sebelum turun, sopir bus itu berkata :”wah, aku iri padamu”.
Susan tidak yakin apakah sopir itu bicara kepadanya atau tidak.
Lagipula, siapa yang bisa iri pada seorang wanita buta yang sepanjang
tahun lalu berusaha menemukan keberanian untk menjalani hidup?

Dengan penasaran, dia berkata kepada sopir, “Kenapa kau bilang kau
iri kepadaku?” Sopir itu menjawab, “Kau pasti senang selalu dilindungi
dan dijagai seperti itu”. Susan tidak mengerti apa maksud sopir itu.
Sekali lagi dia bertanya.”Apa maksudmu?” Kau tahu minggu kemarin,
setiap pagi ada seorang pria tampan berseragam militer berdiri di sudut
jalan dan mengawasimu waktu kau turun dari bus. Dia memastikan bahwa
kau menyeberang dengan selamat dan dia mengawasimu terus sampai kau
masuk ke kantormu. Setelah itu dia meniupkan ciuman, memberi hormat ala
militer, lalu pergi. Kau wanita yang beruntung”. kata sopir itu.

Air mata bahagia membasahi pipi Susan. Karena meskipun secara fisik
tidak dapat melihat Mark, dia selalu bisa memastikan kehadirannya. Dia
beruntung, sangat beruntung, karena Mark memberikannya hadiah yang jauh
lebih berharga daripada penglihatan, hadiah yang tak perlu dilihatnya
dengan matanya untuk meyakinkan diri, hadiah cinta yang bisa menjadi
penerang dimanapun ada kegelapan.

Berfokus Pada Kelebihan Diri

November 1st, 2007 by dhyn

“Anak-anak, coba tuliskan tiga kelebihanmu, ” kata seorang guru yang
hari itu menjadi pembimbing retreat bagi anak-anak sekolah dasar.

Menit demi menit berlalu namun anak-anak itu seakan masih bingung.

Dengan setengah berakting, sang guru kemudian bersuara keras : “Ayo,
tuliskan! Kalau ngga, kertasmu saya sobek lo.” Anak-anak manis itu
seketika menjadi salah tingkah.

Beberapa di antara mereka, memang tampak mulai menulis. Salah satu
di antara mereka menulis di atas kertas, “Kadang-kadang nurutin kata
ibu. Kadang-kadang bantu ibu. Kadang-kadang nyuapin adik makan.”

Penuh rasa penasaran, sang guru bertanya kepadanya : “Kenapa
tulisnya kadang-kadang? “. Dengan wajah penuh keluguan, sang bocah
hanya berkata : “Emang cuma kadang-kadang, pak guru”

Ketika semua anak telah menuliskan kelebihan dirinya, sang guru
kemudian melanjutkan instruksi berikutnya : “Sekarang anak-anak, coba
tuliskan tiga kelemahanmu atau hal-hal yang buruk dalam dirimu.”

Seketika ruangan kelas menjadi gaduh. Anak-anak tampak bersemangat.
Salah satu dari mereka angkat tangan dan bertanya : “Tiga saja, pak
guru?”. “Ya, tiga saja!” jawab pak guru. Anak tadi langsung menyambung
: “Pak guru, jangankan tiga, sepuluh juga bisa!”.

Apa pelajaran yang bisa kita petik dari cerita sederhana itu? Saya
menangkap setidaknya ada beberapa hal penting yang bisa kita pelajari.
Salah satunya, kita sering tidak menyadari apa kelebihan diri kita
karena lingkungan dan orang di sekitar kita jauh lebih sering
mengkomunikasikan kepada kita kejelekan dan kekurangan kita.

Baru-baru ini, saya dan istri saya menyaksikan di sebuah televisi
swasta pertunjukkan seni dari para penyandang cacat. Kami benar-benar
terharu. Ada orang buta yang begitu piawai bermain piano atau kecapi.
Pria tanpa lengan dan wanita muda yang tuli dapat menari dengan begitu
indahnya. “Luar biasa, dia bisa menari dengan penuh penghayatan. Yang
membuat saya heran, dia kan tuli tapi kok bisa mengikuti irama lagu
dengan sangat tepat?”, kata istri saya terkagum-kagum.

Seorang pria buta yang bernyanyi dengan nada merdu sempat berkata,
“Saudaraku, saya memiliki dua mata seperti Anda. Namun yang ada di
depan saya hanyalah kegelapan. Ibu saya mengatakan saya bisa bernyanyi,
dan ia memberi saya semangat untuk bernyanyi.”

Benarlah apa yang dikatakan Alexander Graham Bell : “Setelah satu
pintu tertutup, pintu lainnya terbuka; tetapi kerap kali kita terlalu
lama memandangi dan menyesali pintu yang telah tertutup sehingga kita
tidak melihat pintu yang telah dibuka untuk kita.”

Fokuskan perhatian pada kelebihan kita dan bukan kelemahan kita.