<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Dhyn's Blog</title>
	<atom:link href="http://dhyn.blog.friendster.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dhyn.blog.friendster.com</link>
	<description></description>
	<pubDate>Fri, 05 Sep 2008 15:31:53 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.2</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Menarik Cinta Dengan Mengijinkan Diri Anda Menerimanya</title>
		<link>http://dhyn.blog.friendster.com/2007/11/menarik-cinta-dengan-mengijinkan-diri-anda-menerimanya/</link>
		<comments>http://dhyn.blog.friendster.com/2007/11/menarik-cinta-dengan-mengijinkan-diri-anda-menerimanya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Nov 2007 04:22:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dhyn</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dhyn.blog.friendster.com/2007/11/menarik-cinta-dengan-mengijinkan-diri-anda-menerimanya/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa sih di dunia ini orang yang tak ingin dicintai? Semua orang<br />
pasti mengidamkan dicintai oleh orang lain. Merasakan cinta merupakan<br />
sebuah kegembiraan tersendiri. Kita semua pasti tahu bagaimana<br />
memberikan cinta, tapi akan jadi masalah, saat kita tak tahu bagaimana<br />
menerimanya. Jika kita dapat menerima cinta sebanyak kita bisa<br />
memberikannya, maka lingkaran cinta akan berputar dengan penuh.</p>
<p>Masalahnya,<br />
sebagian besar dari kita sudah dikondisikan pada kepercayaan yang<br />
salah, untuk tidak menerima ungkapan kasih sayang dengan cara terbuka.<br />
Itulah kenapa sebagian dari kita tak bisa menerima pujian, pemujaan dan<br />
semua gerakan yang mengekspresikan kasih sayang. Kita selalu menolak,<br />
mencoba bersembunyi dari semua itu dan menanggapi dengan segala cara<br />
untuk tidak menunjukkan kebanggaan kita. Dan kita tak mengetahui kalau<br />
sebenarnya sedang menolak cinta yang diberikan pada kita, bukannya<br />
menerima dengan sepenuh hati. Bagaimana agar kita bisa menerima<br />
ungkapan kasih sayang dari orang lain secara terbuka, dan membuat diri<br />
kita dipenuhi cinta? Simak tips berikut ini.</p>
<p>- Sadari bagaimana<br />
cara Anda merespon orang lain saat mereka menunjukkan cinta pada Anda.<br />
Apakah Anda merasa tak nyaman saat orang lain melihat Anda dan<br />
memperingatkan pada orang tersebut untuk tidak memperhatikan Anda? Saat<br />
seseorang mencoba bersikap baik pada Anda, apa Anda merasa tak bersedia<br />
menerimanya karena itu terasa aneh? Sebenarnya, bagaimana Anda merespon<br />
adalah bagaimana Anda menerima cinta yang diberikan orang lain pada<br />
Anda, tak peduli Anda menyadarinya atau tidak.</p>
<p> - Semua tanggapan<br />
negatif yang kita buat adalah alasan kenapa kita kurang mendapat dan<br />
kurang dapat mengekspresikan cinta dari orang lain. Setiap kali orang<br />
lain menunjukkan kasih sayang, kita menanggapi dengan mengatakan,<br />
&#8216;Tolong jangan tunjukan cinta padaku, aku tak bisa menerimanya&#8217; dan<br />
kita jadi bertanya-tanya, kenapa ada orang yang menerima kasih sayang<br />
dari banyak orang sedang kita tidak. Sebenarnya, kita lah satu-satunya<br />
yang menciptakan pengalaman itu dari orang lain. Kita memprogram<br />
bagaimana cara orang memperlakukan kita atau bagaimana mereka tak boleh<br />
memperlakukan kita. Kita lah yang membuat orang lain bereaksi negatif<br />
atau positif pada diri kita.</p>
<p>- Jadi dari pada menolak ungkapan<br />
kasih sayang dari orang lain, sebaiknya terimalah dengan perasaan<br />
terbuka. Jika ada orang yang bersikap sangat baik pada Anda, terimalah<br />
mereka dengan cara yang hangat dan tunjukan itu lewat ekspresi di mata<br />
Anda bahwa Anda senang menerima ungkapan kasih sayang itu. Saat ada<br />
orang lain yang memuji, biarkan mereka melakukannya dengan bebas dan<br />
jangan lupa mengucapkan terima kasih untuk pujian mereka. Tunjukan<br />
bahwa Anda sebagai pribadi yang berharga, yang pantas menerima semua<br />
cinta dari orang lain yang dapat diberikan pada Anda, dan biarkan orang<br />
lain memberikannya dengan bebas pada Anda jika mereka mau.</p>
<p>- Ada<br />
orang-orang yang menerima kasih sayang dengan cara yang sangat baik.<br />
Dan orang jenis ini selalu mendapat kasih sayang ke manapun mereka<br />
pergi. Mereka bertindak layaknya seorang bintang dan semua orang<br />
menyukainya. Orang-orang semacam ini selalu diharapkan kehadirannya<br />
oleh semua orang. Orang-orang akan mengajak Anda berbincang saat Anda<br />
menunjukan ketertarikan. Tunjukan rasa suka, mengagumi, sayangi orang<br />
lain dan inginkan mereka, dan sebagai balasannya mereka akan bersikap<br />
sama kepada Anda.</p>
<p>- Buka diri Anda untuk cinta dengan<br />
mengijinkan orang lain mencintai Anda. Beri mereka hadiah dari<br />
mencintai Anda dengan bersikap menyenangkan dan menarik kasih sayang<br />
dari mereka. Ini adalah kunci ajaib untuk membuat orang lain mencintai<br />
Anda dan menunjukannya pada Anda. Biarkan orang lain menunjukan kasih<br />
sayangnya pada Anda dalam tindakan mereka, kata-kata dan ekspresi, dan<br />
beri mereka balasan yang baik. Dunia kita akan jadi lebih indah saat<br />
orang lain mengekspresikan kasih sayangnya pada kita dan menerima itu<br />
dengan sepenuhnya dan kita juga mengekspresikan perasaan sayang kita<br />
pada orang lain dan membiarkan mereka menerimanya secara penuh.</p>
<p>-<br />
Beberapa dari kita menanggapi kasih sayang dengan segera membalasnya<br />
dengan ekspresi kasih sayang. Kita tidak benar-benar menerima cinta<br />
saat kita tidak membalasnya. Saat seseorang mengatakan, &#8216;Aku sayang<br />
kamu&#8217; pada Anda, jangan langsung membalas dengan mengatakan, &#8216;Aku juga<br />
sayang kamu.&#8217; Biarkan Anda merasakan kasih sayang itu untuk sesaat,<br />
terima lah dan biarkan merasuk dalam diri Anda. Tunjukan penghargaan<br />
lewat senyum dan binar di mata Anda. Lalu baru balas ungkapan kasih<br />
sayang dengan cara yang sama dengan mengatakan kalau Anda juga<br />
menyayangi orang tersebut. Lakukan hal yang sama jika Anda menerima<br />
pujian dari orang lain.</p>
<p>- Untuk dapat menerima cinta dari orang<br />
lain, pertama-tama Anda harus bisa menerima cinta dari diri sendiri.<br />
Biasakan mengatakan &#8216;Aku sayang diriku&#8217; dan biarkan perasaan cinta itu<br />
Anda rasakan secara menyeluruh di hati Anda. Bayangkan cahaya terang<br />
yang berasal dari energi cinta melingkupi Anda luar-dalam. Rasakan<br />
cinta untuk diri Anda sendiri, yang Anda berikan tanpa syarat dan<br />
setulus hati. Saat Anda melangkah dengan perasaan penuh cinta pada diri<br />
sendiri, Anda akan berada dalam bentuk yang tak dapat tergoyahkan oleh<br />
siapapun.</p>
<p> Bermula dari cinta pada diri sendiri inilah, Anda akan<br />
dapat memberikan cinta pada orang lain dengan tulus. Biarkan diri Anda<br />
dipenuhi oleh perasaan cinta yang berasal dari diri sendiri, dan jadi<br />
cinta itu sendiri. Dan dengan sendirinya perasaan itu akan dapat<br />
dirasakan oleh orang di sekeliling Anda. Biarkan perasaan kasih sayang<br />
itu menebar ke sekeliling, hingga orang lain dapat merasakannya. Saat<br />
Anda memberikan kasih sayang yang berakar dari diri Anda, maka orang<br />
lain akan membalasnya dengan bebas, karena Anda tak butuh cinta mereka<br />
sebagai balasan, diri Anda sudah dipenuhi cinta yang berasal dari diri<br />
sendiri. Well, <span style="color: #ff3333">selamat menemukan cinta</span><span style="color: #0066cc"> <u>seperti saya sdh menemukannya</u></span>!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dhyn.blog.friendster.com/2007/11/menarik-cinta-dengan-mengijinkan-diri-anda-menerimanya/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menunggu CInta</title>
		<link>http://dhyn.blog.friendster.com/2007/11/menunggu-cinta/</link>
		<comments>http://dhyn.blog.friendster.com/2007/11/menunggu-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Nov 2007 07:20:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dhyn</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dhyn.blog.friendster.com/2007/11/menunggu-cinta/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cinta itu seperti seseorang yang menunggu BIS. <br />Sebuah bis datang, dan<br />
kau bilang &quot;wah&#8230;terlalu penuh, nggak bisa duduk nih! Aku tunggu bis<br />
berikutnya saja, Kemudian, bis berikutnya datang. Kamu melihatnya dan<br />
berkata,&quot;Aduh bisnya sudah tua dan jelek begini&#8230;. nggak mau ah&#8230;.&quot;</p>
<p>Bis selanjutnya datang, tapi dia seakan-akan tidak melihatmu dan melewati<br />
begitu saja. Bis keempat berhenti di depan kamu. Bis itu kosong, kondisinya masih bagus, tapi kamu bilang, &quot;Nggak ada AC nih, gua bisa kepanasan&quot;, maka kamu membiarkan bis ketiga pergi. </p>
<p>Waktu terus berlalu, kamu mulai sadar<br />
bahwa kamu bisa terlambat pergi ke kantor<br />
Ketika bis kelima datang, kamu langsung melompat masuk ke dalamnya.<br />
Setelah beberapa lama, kamu akhirnya sadar kalau kamu salah menaiki<br />
bis Bis tersebut jurusannya bukan menuju kantormu!!!
</p>
<p>Pesan Moral:<br />
Sering kali seseorang menunggu orang yang benar-benar &quot;ideal&quot; untuk<br />
menjadi pasangan hidupnya. Padahal tidak ada orang yang 100% memenuhi<br />
keidealan kita. Tidak ada salahnya memiliki persyaratan untuk &quot;calon&quot;, tapi<br />
tidak ada salahnya juga memberi kesempatan kepada bis yang berhenti di depan kita (tentunya dengan jurusan yang kita inginkan). Apabila ternyata memang &quot;bis&quot; itu tidak cocok, kita masih bisa berteriak, &quot;Kiri&quot; dan keluar dari bis. Maka memberi kesempatan pada &quot;bis&quot;,semuanya bergantung pada keputusan kita. Daripada kita harus &quot;jalan kaki menuju kantor&quot; dalam arti meneruskan hidup ini tanpa kehadiran orang yang dikasihi<br />
Cerita ini juga berarti, kalau kita benar-benar menemukan bis yang &quot;kosong<br />
masih baru, dan ber-AC, dan tentunya sejurusan&quot;, kita harus berusaha sekuat<br />
tenaga untuk memberhentikan bis tersebut dan masuk ke dalamnya, karena<br />
menemukan bis seperti itu adalah suatu berkah yang sangat berharga dan<br />
sangat berarti, tapi tidak semua orang yang mendapatkannya.</p>
<p>Ingat usia anda:<br />
<br />Usia 17-20an : Siapa Saya<br />
<br />Usia 20-30an : Siapa Dia<br />
<br />Usia 30-50an : Siapa sajalah, yang penting ada&#8230;&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dhyn.blog.friendster.com/2007/11/menunggu-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Memecahkan Rekor</title>
		<link>http://dhyn.blog.friendster.com/2007/11/memecahkan-rekor/</link>
		<comments>http://dhyn.blog.friendster.com/2007/11/memecahkan-rekor/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Nov 2007 06:23:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dhyn</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dhyn.blog.friendster.com/2007/11/memecahkan-rekor/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap orang yang berhasrat besar untuk menjadi manusia yang lebih baik perlu merenungkan kata-kata Stuart B. Johnson berikut<br />
ini: “Urusan kita dalam kehidupan ini bukanlah untuk mendahului orang<br />
lain, tetapi untuk melampaui diri kita sendiri, untuk memecahkan rekor<br />
kita sendiri, dan untuk melampaui hari kemarin dengan hari ini.”</p>
<p>Dalam era hiper kompetisi dewasa ini, bagaimana kita memahami<br />
kalimat yang demikian itu? Bukankah kita harus bersaing dengan orang<br />
lain, dengan siapa saja yang berusaha mengalahkan kita? Jika demikian<br />
cara berpikir kita, maka cerita yang dikirim seorang kawan berikut ini<br />
mungkin menarik untuk menjadi bahan renungan. </p>
<p>LOMPATAN SI BELALANG…. .</p>
<p>Di suatu hutan, hiduplah seekor belalang muda yang cerdik. Belalang<br />
muda ini adalah belalang yang lompatannya paling tinggi di antara<br />
sesama belalang yang lainnya. Belalang muda ini sangat membanggakan<br />
kemampuan lompatannya ini. Sehari-harinya belalang tersebut melompat<br />
dari atas tanah ke dahan-dahan pohon yang tinggi, dan kemudian makan<br />
daun-daunan yang ada di atas pohon tersebut. Dari atas pohon tersebut<br />
belalang dapat melihat satu desa di kejauhan yang kelihatannya indah<br />
dan sejuk. Timbul satu keinginan di dalam hatinya untuk suatu saat<br />
dapat pergi ke sana. </p>
<p>Suatu hari, saat yang dinantikan itu tibalah. Teman setianya, seekor<br />
burung merpati, mengajaknya untuk terbang dan pergi ke desa tersebut.<br />
Dengan semangat yang meluap-luap, kedua binatang itu pergi bersama ke<br />
desa tersebut. Setelah mendarat mereka mulai berjalan-jalan melihat<br />
keindahan desa itu. Akhirnya mereka sampai di suatu taman yang indah<br />
berpagar tinggi, yang dijaga oleh seekor anjing besar. Belalang itu<br />
bertanya kepada anjing, “Siapakah kamu, dan apa yang kamu lakukan di<br />
sini?”</p>
<p>“Aku adalah anjing penjaga taman ini. Aku dipilih oleh majikanku<br />
karena aku adalah anjing terbaik di desa ini,” jawab anjing dengan<br />
sombongnya. </p>
<p>Mendengar perkataan si anjing, panaslah hati belalang muda. Dia lalu<br />
berkata lagi, “Hmm, tidak semua binatang bisa kau kalahkan. Aku<br />
menantangmu untuk membuktikan bahwa aku bisa mengalahkanmu. Aku<br />
menantangmu untuk bertanding melompat, siapakah yang paling tinggi<br />
diantara kita.”</p>
<p>“Baik,” jawab si anjing. “Di depan sana ada pagar yang tinggi. Mari<br />
kita bertanding, siapakah yang bisa melompati pagar tersebut.”</p>
<p>Keduanya lalu berbarengan menuju ke pagar tersebut. Kesempatan<br />
pertama adalah si anjing. Setelah mengambil ancang-ancang, anjing itu<br />
lalu berlari dengan kencang, melompat, dan berhasil melompati pagar<br />
yang setinggi orang dewasa tersebut tersebut. Kesempatan berikutnya<br />
adalah si belalang muda. Dengan sekuat tenaga belalang tersebut<br />
melompat. Namun, ternyata kekuatan lompatannya hanya mencapai tiga<br />
perempat tinggi pagar tersebut, dan kemudian belalang itu jatuh kembali<br />
ke tempatnya semula. Dia lalu mencoba melompat lagi dan melompat lagi,<br />
namun ternyata gagal pula.</p>
<p>Si anjing lalu menghampiri belalang dan sambil tertawa berkata,<br />
“Nah, belalang, apa lagi yang mau kamu katakan sekarang? Kamu sudah<br />
kalah.”</p>
<p>“Belum,” jawab si belalang. “Tantangan pertama tadi kamu yang menentukan. Beranikah kamu sekarang jika saya yang menentukan<br />
tantangan kedua?”</p>
<p>“Apa pun tantangan itu, aku siap,” tukas si anjing.</p>
<p>Belalang lalu berkata lagi, “Tantangan kedua ini sederhana saja.<br />
Kita berlomba melompat di tempat. Pemenangnya akan diukur bukan dari<br />
seberapa tinggi dia melompat, tapi diukur dari lompatan yang dilakukan<br />
tersebut berapa kali tinggi tubuhnya.”</p>
<p>Anjing kembali yang mencoba pertama kali. Dari hasil lompatannya, ternyata anjing berhasil melompat setinggi empat kali tinggi<br />
tubuhnya. Berikutnya adalah giliran si belalang. Lompatan belalang<br />
hanya setinggi setengah dari lompatan anjing, namun ketinggian<br />
lompatan tersebut ternyata setara dengan empat puluh kali tinggi<br />
tubuhnya. Dan belalang pun menjadi pemenang untuk lomba yang kedua ini.<br />
Kali ini anjing menghampiri belalang dengan rasa kagum.</p>
<p>“Hebat. Kamu menjadi pemenang untuk perlombaan kedua ini. Tapi<br />
pemenangnya belum ada. Kita masih harus mengadakan lomba ketiga,” kata<br />
si anjing.</p>
<p>“Tidak perlu,” jawab si belalang. “Karena, pada dasarnya pemenang<br />
dari setiap perlombaan yang kita adakan adalah mereka yang menentukan<br />
standar perlombaannya. Pada saat lomba pertama kamu yang menentukan<br />
standar perlombaannya dan kamu yang menang. Demikian pula lomba kedua<br />
saya yang menentukan, saya pula yang menang.” “Intinya adalah, kamu dan<br />
saya mempunyai potensi dan standar yang berbeda tentang kemenangan.<br />
Adalah tidak bijaksana membandingkan potensi kita dengan yang lain.<br />
Kemenangan sejati adalah ketika dengan potensi yang kamu miliki, kamu<br />
bisa melampaui standar dirimu sendiri. Iya nggak sih?”</p>
<p>Cerita sederhana di atas pernah membuat saya malu pada diri sendiri.<br />
Ketika masih berumur awal 30-an tahun, betapa sering saya<br />
membanding-bandingkan diri saya dengan orang lain. Membandingkan antara<br />
profesi saya dengan profesi si Anu, antara pendapatan saya dan<br />
pendapatan si Banu, antara mobil saya dengan mobil si Canu, antara<br />
kesuksesan saya dengan kesuksesan si Danu, dan seterusnya. Hasilnya?<br />
Ada kalanya muncul perasaan-perasaan negatif, seperti iri hati atau<br />
kecewa pada diri sendiri, yang menganiaya rasa syukur atas kehidupan.<br />
Namun kala yang lain muncul juga semacam motivasi untuk bisa lebih maju<br />
dan<br />
berusaha lebih tekun agar bisa melampaui orang lain (pesaing?).</p>
<p>Belakangan, saya menemukan cara bersaing yang lebih cocok untuk diri<br />
sendiri. Saya mulai mengukur kemajuan saya tahun ini berdasarkan<br />
prestasi saya tahun kemarin. Saya tetapkan bahwa tahun ini saya harus<br />
lebih sehat dari tahun kemarin; pendapatan dan sumbangan tahun ini<br />
diupayakan lebih tinggi dari tahun lalu; pengetahuan yang disebarkan<br />
tahun ini ditingkatkan dari tahun silam; relasi dan tali silahturahmi<br />
juga direntangkan lebih lebar; kualitas ibadah diperdalam; perbuatan<br />
baik dipersering; dan seterusnya. Dengan cara ini, saya ternyata lebih<br />
mampu mengatasi penyakit-penyakit seperti iri hati, dengki, dan rasa<br />
kecewa pada diri. Berlomba untuk memecahkan rekor pribadi yang baru,<br />
melampaui rekor yang tercapai di masa lalu, ternyata<br />
menimbulkan keasyikan dan rasa syukur yang membahagiakan.</p>
<p>Mungkin benar kata orang bijak dulu: kemenangan sejati bukanlah<br />
kemenangan atas orang lain, melainkan kemenangan atas hawa nafsu diri<br />
sendiri. Setujukah?</p>
<p>Sumber: Memecahkan Rekor oleh Andrias Harefa.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dhyn.blog.friendster.com/2007/11/memecahkan-rekor/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tempayan Retak</title>
		<link>http://dhyn.blog.friendster.com/2007/11/tempayan-retak/</link>
		<comments>http://dhyn.blog.friendster.com/2007/11/tempayan-retak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Nov 2007 06:19:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dhyn</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dhyn.blog.friendster.com/2007/11/tempayan-retak/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang tukang air memiliki dua tempayan besar, masing-masing bergantung pada<br />
kedua ujung sebuah pikulan yang dibawa menyilang pada bahunya. Satu dari<br />
tempayan itu retak, sedangkan tempayan satunya lagi tidak. Tempayan yang utuh<br />
selalu dapat membawa air penuh, walaupun melewati perjalanan yang panjang dari<br />
mata air ke rumah majikannya. Tempayan retak itu hanya dapat membawa air<br />
setengah penuh.</p>
<p>Hal ini terjadi setiap hari selama dua tahun. Si tukang air hanya dapat membawa<br />
satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. Tentu saja si tempayan utuh<br />
merasa bangga akan prestasinya karena dapat menunaikan tugas dengan<br />
sempurna. Di pihak lain, si tempayan retak merasa malu sekali akan<br />
ketidaksempurnaanya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan<br />
setengah dari porsi yang seharusnya ia dapat berikan.</p>
<p>Setiap Orang Memiliki kekurangan</p>
<p>Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan retak berkata<br />
kepada si tukang air, “Saya sungguh malu kepada diri saya sendiri dan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya”</p>
<p>“mengapa?” tanya si tukang air,”mengapa kamu merasa malu ?”&quot;Saya hanya mampu,<br />
selama dua tahun ini, membawa setengah porsi air dari yang seharusnya<br />
dapat saya bawa. Adanya retakan pada sisi saya telah membuat air yang<br />
saya bawa bocor<br />
sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacatku itu, saya telah<br />
membuat mu rugi.”</p>
<p>Si tukang air merasa kasihan kepada si tempayan retak, dan dalam belas<br />
kasihannya, ia menjawab,” Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin<br />
kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan.”</p>
<p>Tuhan sanggup memakai kelemahan kita untuk maksud yang indah.</p>
<p>Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan dan baru<br />
menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan dan itu<br />
membuatnya sedikit terhibur. Namun pada akhir perjalanan, ia kembali<br />
merasa sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor dan kembali<br />
tempayan retak itu meminta maaf kepada si tukang air atas kegagalannya.<br />
Si tukang air<br />
berkata kepada tempayan itu, “Apakah kamu tidak memperhatikan adanya<br />
bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu ? tapi tidak ada bunga di<br />
sepanjang jalan di sisi tempayan lain yang tidak retak itu ?” Itu<br />
karena aku selalu menyadari akan<br />
cacatmu dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga di<br />
sepanjang jalan di sisimu dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata<br />
air, kamu mengairi benih-benih itu. Selama dua tahun ini, aku telah dapat<br />
memetik bunga-bunga indah itu untuk dapat menghias meja majikan kita.<br />
Tanpa adanya kamu , majikan kita tidak akan dapat menghias rumahnya<br />
seindah sekarang.”</p>
<p>Setiap orang memiliki cacat dan kelemahan sendiri. Kita semua adalah tempayan<br />
retak, namun jika kita mau, Tuhan akan menggunakan kekurangan kita untuk maksud<br />
tertentu. Dimata Tuhan yang bijaksana, tak ada yang terbuang percuma,<br />
Jangan takut akan kekuranganmu. Kenalilah kelemahanmu dan kamu dapat<br />
menjadi sarana keindahan Tuhan.</p>
<p>Ketahuilah dalam kelemahan kita, kita menemukan kekuatan kita.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dhyn.blog.friendster.com/2007/11/tempayan-retak/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pernahkah Kamu Merasa Bosan?</title>
		<link>http://dhyn.blog.friendster.com/2007/11/pernahkah-kamu-merasa-bosan/</link>
		<comments>http://dhyn.blog.friendster.com/2007/11/pernahkah-kamu-merasa-bosan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Nov 2007 06:18:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dhyn</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dhyn.blog.friendster.com/2007/11/pernahkah-kamu-merasa-bosan/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada awalnya manusialah yang menciptakan kebiasaan. Namun lama kelamaan, kebiasaanlah yang menentukan tingkah laku manusia.</p>
<p>Ada seorang yang hidupnya amat miskin. Namun walaupun ia miskin ia tetap rajin membaca.</p>
<p>Suatu hari secara tak sengaja ia membaca sebuah buku kuno. Buku itu<br />
mengatakan bahwa di sebuah pantai tertentu ada sebuah batu yang hidup,<br />
yang bisa mengubah benda apa saja menjadi emas. </p>
<p>Setelah mempelajari isi buku itu dan memahami seluk-beluk batu<br />
tersebut, iapun berangkat menuju pantai yang disebutkan dalam buku kuno<br />
itu.</p>
<p>Dikatakan dalam buku itu bahwa batu ajaib itu agak hangat bila<br />
dipegang, seperti halnya bila kita menyentuh makhluk hidup lainnya.</p>
<p>Setiap hari pemuda itu memungut batu, merasakan suhu batu tersebut<br />
lalu membuangnya ke laut dalam setelah tahu kalau batu dalam<br />
genggamannya itu dingin-dingin saja.</p>
<p>Satu batu, dua batu, tiga batu dipungutnya dan dilemparkannya kembali ke dalam laut.</p>
<p>Satu hari, dua hari, satu minggu, setahun ia berada di pantai itu.</p>
<p>Kini menggenggam dan membuang batu telah menjadi kebiasaannya.</p>
<p>Suatu hari secara tak sadar, batu yang dicari itu tergenggam dalam<br />
tangannya. Namun karena ia telah terbiasa membuang batu ke laut, maka<br />
batu ajaib itupun tak luput terbang ke laut dalam.</p>
<p>Lelaki miskin itu melanjutkan ‘permainannya’ memungut dan membuang batu. Ia kini lupa apa yang sedang dicarinya.</p>
<p>Teman, pernahkah kita merasakan kalau hidup ini hanyalah suatu<br />
rentetan perulangan yang membosankan? Dari kecil, kita sebenarnya sudah<br />
dapat merasakannya, kita harus bangun pagi-pagi untuk bersekolah, lalu<br />
pada siangnya kita pulang, mungkin sambil melakukan aktifitas lainnya,<br />
seperti belajar, nonton TV, tidur, lalu pada malamnya makan malam,<br />
kemudian tidur, keesokkan harinya kita kembali bangun pagi untuk<br />
bersekolah, dan melakukan aktifitas seperti hari kemarin, hal itu<br />
berulang kali kita lakukan bertahun-tahun !! Hingga akhirnya tiba<br />
saatnya untuk kita bekerja, tak jauh beda dengan bersekolah, kita harus<br />
bangun pagi-pagi untuk berangkat ke kantor, lalu pulang pada sore/malam<br />
harinya, kemudian kita tidur, keesokan harinya kita harus kembali<br />
bekerja lagi, dan melakukan aktifitas yang sama seperti kemarin, sampai<br />
kapan?</p>
<p>Pernahkah kita merasa bosan dengan aktifitas hidup kita?</p>
<p>Kalau ada di antara teman²ku ada yang merasakan demikian, dengarkanlah nasehatku ini :</p>
<p>“Bila hidup ini cuman suatu rentetan perulangan yang membosankan,<br />
maka kita akan kehilangan kesempatan untuk menemukan nilai baru di<br />
balik setiap peristiwa hidup.”</p>
<p>Artinya, jangan melihat aktifitas yang kita lakukan ini sebagai<br />
suatu kebiasaan atau rutinitas , karena jika kita menganggap demikian,<br />
maka aktifitas kita akan amat sangat membosankan !!</p>
<p>Cobalah maknai setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita,<br />
mungkin kamu akan menemukan suatu yang baru, sesuatu yang belum pernah<br />
kamu ketahui sebelumnya, “Setiap hari merupakan hadiah baru yang<br />
menyimpan sejuta arti.”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dhyn.blog.friendster.com/2007/11/pernahkah-kamu-merasa-bosan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>10 Kualitas Pribadi Yang Di Sukai</title>
		<link>http://dhyn.blog.friendster.com/2007/11/10-kualitas-pribadi-yang-di-sukai/</link>
		<comments>http://dhyn.blog.friendster.com/2007/11/10-kualitas-pribadi-yang-di-sukai/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Nov 2007 09:14:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dhyn</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dhyn.blog.friendster.com/2007/11/10-kualitas-pribadi-yang-di-sukai/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1.Ketulusan</p>
<p>Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh<br />
semua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena<br />
yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Orang yang tulus selalu mengatakan<br />
kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura- pura, mencari-cari alasan atau<br />
memutarbalikkan fakta. Prinsipnya “Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak”.<br />
Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi<br />
dengan kecerdikan seekor ular. Dengan begitu, ketulusan tidak menjadi<br />
keluguan yang bisa merugikan diri sendiri.</p>
<p>2.Kerendahan Hati</p>
<p>Berbeda dengan rendah diri yang merupakan kelemahan, kerendah hatian justru<br />
mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap<br />
rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orang<br />
yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa<br />
membuat orang yang diatasnya merasa oke dan membuat orang yang di bawahnya<br />
tidak merasa minder.</p>
<p>3.Kesetiaan</p>
<p>Kesetiaan sudah menjadi barang langka &amp; sangat tinggi harganya. Orang yang<br />
setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janji, punya<br />
komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat.</p>
<p>4.Positive Thinking</p>
<p>Orang yang bersikap positif (positive thinking) selalu berusaha melihat<br />
segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk<br />
sekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang<br />
lain, lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasaan, lebih suka<br />
mencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam, dan<br />
sebagainya.</p>
<p>5.Keceriaan</p>
<p>Karena tidak semua orang dikaruniai temperamen ceria, maka keceriaan tidak<br />
harus diartikan ekspresi wajah dan tubuh tapi sikap hati. Orang yang ceria<br />
adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selalu<br />
berusaha meraih kegembiraan. Dia bisa mentertawakan situasi, orang lain,<br />
juga dirinya sendiri. Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorong<br />
semangat orang lain.</p>
<p>6.Bertanggung jawab</p>
<p>Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan<br />
sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya.<br />
Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk<br />
disalahkan. Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akan<br />
menyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yang<br />
bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.</p>
<p>7.Percaya Diri</p>
<p>Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana<br />
adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orang yang percaya<br />
diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Dia<br />
tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik.</p>
<p>8.Kebesaran Jiwa</p>
<p>Kebesaran jiwa dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain.<br />
Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci<br />
dan permusuhan. Ketika menghadapi masa- masa sukar dia tetap tegar, tidak<br />
membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.</p>
<p>9.Easy Going</p>
<p>Orang yang easy going menganggap hidup ini ringan. Dia tidak suka<br />
membesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkan masalah-<br />
masalah besar. Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir<br />
dengan masa depan. Dia tidak mau pusing dan stress dengan masalah-masalah<br />
yang berada di luar kontrolnya.</p>
<p>10.Empati</p>
<p>Empati adalah sifat yang sangat mengagumkan. Orang yang berempati bukan saja<br />
pendengar yang baik tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain.<br />
Ketika terjadi konflik dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua<br />
belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Dia<br />
selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dhyn.blog.friendster.com/2007/11/10-kualitas-pribadi-yang-di-sukai/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bahasa Hati / Inner Heart Conversation</title>
		<link>http://dhyn.blog.friendster.com/2007/11/bahasa-hati-inner-heart-conversation/</link>
		<comments>http://dhyn.blog.friendster.com/2007/11/bahasa-hati-inner-heart-conversation/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Nov 2007 09:03:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dhyn</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dhyn.blog.friendster.com/2007/11/bahasa-hati-inner-heart-conversation/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Good Article whEn u FeeL&nbsp; aNgrY…<br />
Don’t Let it far juZ keEp Love in deEp on uR hEarT</p>
<p>Inner&nbsp; Heart Conversation</p>
<p>There is enemy that can not be conquered by&nbsp; love.<br />
There is no illness that can not be cured by love and&nbsp; affection.<br />
There is no hostility that can not be forgiven by&nbsp; sincerity.<br />
There is no difficulty that can not be solved by&nbsp; perseverance.<br />
There is no stone that can not be broken by&nbsp; patient.<br />
Everything is must be from the bottom of your heart. </p>
<p>Talk&nbsp; with your inner heart, and it will go through to another heart too.<br />
To be&nbsp; succeed is not about how big is your muscle and smart is your brain,<br />
yet it&nbsp; is also about how lenient/soft of your heart to do certain matters.</p>
<p>You&nbsp; can not stop a cried baby by pulling him at your arm.<br />
Or persuade him with&nbsp; sweets/candies and sweet words.<br />
What you have to do is embrace/hug him until&nbsp; he feel the heart beat calmly<br />
in your depth of relieved.</p>
<p>Please begin&nbsp; with your soft heart before you give it to your&nbsp; achievement.</p>
<p>Translation:</p>
<p>ArtiKeL yaNG BaGuS BaGi OrANg&nbsp; yaNG bawaANnyA marah2 kali yah?&nbsp; =D</p>
<p>Bicara Dengan Bahasa&nbsp; Hati</p>
<p>Tak ada musuh yang tak dapat ditaklukkan oleh cinta.<br />
Tak ada penyakit&nbsp; yang tak dapat disembuhkan oleh kasih sayang.<br />
Tak ada permusuhan yang tak&nbsp; dapat dimaafkan oleh ketulusan.<br />
Tak ada kesulitan yang tak dapat dipecahkan&nbsp; oleh ketekunan.<br />
Tak ada batu keras yang tak dapat dipecahkan oleh kesabaran.<br />
Semua itu haruslah berasal dari hati&nbsp; anda.</p>
<p>Bicaralah dengan bahasa hati,&nbsp; maka akan sampai ke hati pula.<br />
Kesuksesan bukan semata-mata betapa keras&nbsp; otot dan betapa<br />
tajam otak anda, namun juga betapa lembut hati anda dalam<br />
menjalani segala&nbsp; sesuatunya.</p>
<p>Anda tak&nbsp; kan dapat menghentikan tangis seorang bayi hanya<br />
dengan merengkuhnya dalam&nbsp; lengan yang kuat.<br />
Atau, membujuknya dengan berbagai gula-gula dan kata-kata&nbsp; manis.<br />
Anda harus mendekapnya hingga ia merasakan detak jantung yang tenang<br />
jauh di dalam dada anda.</p>
<p>Mulailah dengan&nbsp; melembutkan hati sebelum memberikannya pada<br />
keberhasilan anda.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dhyn.blog.friendster.com/2007/11/bahasa-hati-inner-heart-conversation/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Inilah Cinta</title>
		<link>http://dhyn.blog.friendster.com/2007/11/inilah-cinta/</link>
		<comments>http://dhyn.blog.friendster.com/2007/11/inilah-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Nov 2007 09:00:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dhyn</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dhyn.blog.friendster.com/2007/11/inilah-cinta/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Para penumpang bus memandang penuh simpati ketika wanita muda<br />
berpenampilan menarik dan bertongkat putih itu dengan hati-hati menaiki<br />
tangga. Dia membayar sopir bus lalu, dengan tangan meraba-raba kursi,<br />
dia berjalan menyusuri lorong sampai menemukan kursi yang tadi<br />
dikatakan kosong oleh si sopir. kemudian ia duduk, meletakkan tasnya<br />
dipangkuannya dan menyandarkan tongkatnya pada tungkainya. </p>
<p>Setahun sudah lewat sejak Susan, 34, menjadi buta. Gara-gara salah<br />
diagnosa dia kehilangan penglihatannya dan terlempar kedunia yang gelap<br />
gulita, penuh amarah, frustrasi dan rasa kasihan pada diri sendiri. </p>
<p>Sebagai wanita yang independen, Susan merasa terkutuk oleh nasib<br />
mengerikan yang membuatnya kehilangan kemampuan, merasa tak berdaya dan<br />
menjadi beban bagi semua orang disekelilingnya. “Bagaimana mungkin ini<br />
bisa terjadi padaku?” dia bertanya-tanya,<br />
hatinya mengeras karena marah. Tetapi, betapapun seringnya ia menangis<br />
atau menggerutu atau berdoa, dia mengerti kenyataan yang menyakitkan<br />
itu penglihatannya takkan pernah pulih lagi. </p>
<p>Depresi mematahkan semangat Susan yang tadinya selalu optimis.<br />
Mengisi waktu seharian kini merupakan perjuangan berat yang menguras<br />
tenaga dan membuatnya frustrasi. Dia menjadi sangat bergantung pada<br />
Mark, suaminya. Mark seorang perwira Angkatan Udara. Dia mencintai<br />
Susan dengan tulus. </p>
<p>Ketika istrinya baru kehilangan penglihatannya, dia melihat<br />
bagaimana Susan tenggelam dalam keputusasaan. Mark bertekad untuk<br />
membantunya menemukan kembali kekuatan dan rasa percaya diri yang<br />
dibutuhkan Susan untuk menjadi mandiri lagi. Latar belakang mi<br />
liter Mark membuatnya terlatih untuk menghadapi berbagai situasi<br />
darurat, tetapi dia tahu, ini adalah pertempuran yang paling sulit yang<br />
pernah dihadapinya. </p>
<p>Akhirnya Susan merasa siap bekerja lagi. Tetapi, bagaimana dia akan<br />
bisa ke kantornya? Dulu Susan biasa naik bus, tetapi sekarang terlalu<br />
takut untuk pergi ke kota sendirian. Mark menawarkan untuk<br />
mengantarkannya setiap hari, meskipun tempat kerja mereka<br />
terletak dipinggir kota yang berseberangan. </p>
<p>Mula - mula, kesepakatan itu membuat Susan nyaman dan Mark puas<br />
karena bisa melindungi istrinya yang buta, yang tidak yakin akan bisa<br />
melakukan hal-hal paling sederhana sekalipun. Tetapi, Mark segera<br />
menyadari bahwa pengaturan itu keliru membuat mereka terburu-buru, dan<br />
terlalu mahal. Susan harus belajar naik bus lagi, Mark menyimpulkan<br />
dalam hati. tetapi, baru berpikir untuk menyampaikan rencana itu kepada<br />
Susan telah membuatnya merasa tidak enak. </p>
<p>Susan masih sangat rapuh, masih sangat marah. Bagaimana reaksinya<br />
nanti? Persis seperti dugaan Mark, Susan ngeri mendengar gagasan untuk<br />
naik bus lagi. “Aku buta!” tujasnya dengan pahit. “Bagaimana aku bisa<br />
tahu kemana aku pergi? Aku merasa kau akan meninggalkanku” Mark sedih<br />
mendengar kata-kata itu, tetapi ia tahu apa yang harus dilakukan. Dia<br />
berjanji bahwa setiap pagi dan sore, ia akan naik bus bersama Susan,<br />
selama masih diperlukan, sampai Susan hafal dan bisa pergi sendiri. Dan<br />
itulah yang terjadi. Selama 2 minggu penuh Mark, menggunakan<br />
seragam militer lengkap, mengawal Susan ke dan dari tempat kerja,<br />
setiap hari. Dia mengajari Susan bagimana menggantungkan diri pada<br />
indranya yang lain, terutama pendengarannya, untuk menemukan dimana ia<br />
berada dan bagaimana beradaptasi dengan lingkungan yang baru. </p>
<p>Dia menolong Susan berkenalan dan berkawan dengan sopir-sopir bus<br />
dan menyisakan 1 kursi kosong untuknya. Dia membuat Susan tertawa,<br />
bahkan pada hari-hari yang tidak terlalu menyenangkan ketika Susan<br />
tersandung dari bus, atau menjatuhkan tasnya yang penuh berkas di<br />
lorong bus. Setiap pagi mereka berangkat bersama-sama, setelah itu Mark<br />
akan naik taksi ke kantornya. </p>
<p>Meskipun pengaturan itu lebih mahal dan melelahkan daripada yang<br />
pertama, Mark yakin bahwa hanya soal waktu sebelum Susan mampu naik bus<br />
tanpa dikawal. Mark percaya kepadanya, percaya kepada Susan yang dulu<br />
dikenalnya sebelum wanita itu kehilangan penglihatannya, wanita yang<br />
tidak pernah takut menghadapi tantangan apapun dan tidak akan pernah<br />
menyerah. </p>
<p>Akhirnya, Susan memutuskan bahwa dia siap untuk melakukan perjalanan<br />
itu seorang diri. Tibalah hari senin. Sebelum berangkat, Susan memeluk<br />
Mark yang pernah menjadi kawannya 1 bus dan sahabatnya yang terbaik.<br />
Matanya berkaca-kaca, penuh air mata syukur karena kesetiaan, kesabaran<br />
dan cinta Mark. Dia mengucapkan selamat berpisah. Untuk pertama kalinya<br />
mereka pergi kearah yang berlawanan. Senin, Selasa, Rabu, Kamis …<br />
Setiap hari dijalaninya dengan<br />
sempurna. </p>
<p>Belum pernah Susan merasa sepuas itu. Dia berhasil ! Dia mampu<br />
berangkat kerja tanpa dikawal. Pada hari Jum’at pagi, seperti biasa<br />
Susan naik bus ke tempat kerja. Ketika dia membayar<br />
ongkos bus sebelum turun, sopir bus itu berkata :”wah, aku iri padamu”.<br />
Susan tidak yakin apakah sopir itu bicara kepadanya atau tidak.<br />
Lagipula, siapa yang bisa iri pada seorang wanita buta yang sepanjang<br />
tahun lalu berusaha menemukan keberanian untk menjalani hidup? </p>
<p>Dengan penasaran, dia berkata kepada sopir, “Kenapa kau bilang kau<br />
iri kepadaku?” Sopir itu menjawab, “Kau pasti senang selalu dilindungi<br />
dan dijagai seperti itu”. Susan tidak mengerti apa maksud sopir itu.<br />
Sekali lagi dia bertanya.”Apa maksudmu?” Kau tahu minggu kemarin,<br />
setiap pagi ada seorang pria tampan berseragam militer berdiri di sudut<br />
jalan dan mengawasimu waktu kau turun dari bus. Dia memastikan bahwa<br />
kau menyeberang dengan selamat dan dia mengawasimu terus sampai kau<br />
masuk ke kantormu. Setelah itu dia meniupkan ciuman, memberi hormat ala<br />
militer, lalu pergi. Kau wanita yang beruntung”. kata sopir itu. </p>
<p>Air mata bahagia membasahi pipi Susan. Karena meskipun secara fisik<br />
tidak dapat melihat Mark, dia selalu bisa memastikan kehadirannya. Dia<br />
beruntung, sangat beruntung, karena Mark memberikannya hadiah yang jauh<br />
lebih berharga daripada penglihatan, hadiah yang tak perlu dilihatnya<br />
dengan matanya untuk meyakinkan diri, hadiah cinta yang bisa menjadi<br />
penerang dimanapun ada kegelapan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dhyn.blog.friendster.com/2007/11/inilah-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Berfokus Pada Kelebihan Diri</title>
		<link>http://dhyn.blog.friendster.com/2007/11/berfokus-pada-kelebihan-diri/</link>
		<comments>http://dhyn.blog.friendster.com/2007/11/berfokus-pada-kelebihan-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Nov 2007 08:52:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dhyn</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dhyn.blog.friendster.com/2007/11/berfokus-pada-kelebihan-diri/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Anak-anak, coba tuliskan tiga kelebihanmu, ” kata seorang guru yang<br />
hari itu menjadi pembimbing retreat bagi anak-anak sekolah dasar.</p>
<p>Menit demi menit berlalu namun anak-anak itu seakan masih bingung.</p>
<p>Dengan setengah berakting, sang guru kemudian bersuara keras : “Ayo,<br />
tuliskan! Kalau ngga, kertasmu saya sobek lo.” Anak-anak manis itu<br />
seketika menjadi salah tingkah.</p>
<p>Beberapa di antara mereka, memang tampak mulai menulis. Salah satu<br />
di antara mereka menulis di atas kertas, “Kadang-kadang nurutin kata<br />
ibu. Kadang-kadang bantu ibu. Kadang-kadang nyuapin adik makan.” </p>
<p>Penuh rasa penasaran, sang guru bertanya kepadanya : “Kenapa<br />
tulisnya kadang-kadang? “. Dengan wajah penuh keluguan, sang bocah<br />
hanya berkata : “Emang cuma kadang-kadang, pak guru”</p>
<p>Ketika semua anak telah menuliskan kelebihan dirinya, sang guru<br />
kemudian melanjutkan instruksi berikutnya : “Sekarang anak-anak, coba<br />
tuliskan tiga kelemahanmu atau hal-hal yang buruk dalam dirimu.”</p>
<p>Seketika ruangan kelas menjadi gaduh. Anak-anak tampak bersemangat.<br />
Salah satu dari mereka angkat tangan dan bertanya : “Tiga saja, pak<br />
guru?”. “Ya, tiga saja!” jawab pak guru. Anak tadi langsung menyambung<br />
: “Pak guru, jangankan tiga, sepuluh juga bisa!”.</p>
<p>Apa pelajaran yang bisa kita petik dari cerita sederhana itu? Saya<br />
menangkap setidaknya ada beberapa hal penting yang bisa kita pelajari.<br />
Salah satunya, kita sering tidak menyadari apa kelebihan diri kita<br />
karena lingkungan dan orang di sekitar kita jauh lebih sering<br />
mengkomunikasikan kepada kita kejelekan dan kekurangan kita.</p>
<p>Baru-baru ini, saya dan istri saya menyaksikan di sebuah televisi<br />
swasta pertunjukkan seni dari para penyandang cacat. Kami benar-benar<br />
terharu. Ada orang buta yang begitu piawai bermain piano atau kecapi.<br />
Pria tanpa lengan dan wanita muda yang tuli dapat menari dengan begitu<br />
indahnya. “Luar biasa, dia bisa menari dengan penuh penghayatan. Yang<br />
membuat saya heran, dia kan tuli tapi kok bisa mengikuti irama lagu<br />
dengan sangat tepat?”, kata istri saya terkagum-kagum.</p>
<p>Seorang pria buta yang bernyanyi dengan nada merdu sempat berkata,<br />
“Saudaraku, saya memiliki dua mata seperti Anda. Namun yang ada di<br />
depan saya hanyalah kegelapan. Ibu saya mengatakan saya bisa bernyanyi,<br />
dan ia memberi saya semangat untuk bernyanyi.”</p>
<p>Benarlah apa yang dikatakan Alexander Graham Bell : “Setelah satu<br />
pintu tertutup, pintu lainnya terbuka; tetapi kerap kali kita terlalu<br />
lama memandangi dan menyesali pintu yang telah tertutup sehingga kita<br />
tidak melihat pintu yang telah dibuka untuk kita.”</p>
<p>Fokuskan perhatian pada kelebihan kita dan bukan kelemahan kita.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dhyn.blog.friendster.com/2007/11/berfokus-pada-kelebihan-diri/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>